Kategori
Artikel

Belajar Jauh dari Android

Mulai awal bulan Oktober 2020 hingga pertengahan, Zenfone kesayangan saya titipkan ke service center di daerah Bekasi kota. Problem nya adalah baterai yang sudah kembung, pemakaiannya pun hanya 1-2 jam saja, LCD keangkat sampai kelihatan lampu LED nya.

Awalnya berat sih ditinggal di tempat service, apa lagi dikabari bahwa pengecekannya membutuhkan waktu sepekan, kemudian perbaikannya 14 hari, namun di review maps ada yang komentar bahwa perbaikan dengan masalah yang sama (baterai) lebih cepat dari perhitungan awal.

Akhirnya saya pergi ke service center yang kedua kalinya memberanikan diri menitipkan Zenfone saya untuk diperbaiki, 5 hari kemudian mereka mengabari bahwa perbaikan sudah selesai, rincian biayanya pun sudah di kirimkan lewat Whatsapp.

Pesan yang dikirimkan oleh pihak service center

Pertama kali saya lihat adalah totalnya, tapi karena tidak terlalu teliti, anggapan saya adalah 400rb-an 😂

Hingga akhirnya saya balas seperti gambar berikut

Alhamdulillah setelah 10 hari dari pemberitahuan pengecekan itu, Zenfone saya bisa di ambil.

Pada tulisan ini sebenarnya saya ingin bercerita tentang bagaimana rasanya jauh dari Android, tapi anggap saja tadi adalah muqoddimahnya 😜

15 hari adalah waktu yang lumayan lama, apalagi meninggalkan sesuati yang sudah menjadi kebiasaan, yaitu bermain HP.

Mungkin Anda berpikir, bagaimana saya berkomunikasi dengan teman-teman, keluarga atau pengaruhnya terhadap pekerjaan saya (Online tentunya).?

Waktu setengah bulan itu saya menggunakan Emulator di laptop, kemudian diinstall whatsapp dan aplikasi pendukung. Jadi, harus buka laptop dulu baru bisa Whatsapp-an, bagaimana dengan sinyal? Wifi dong tentunya.

Intinya adalah, yang saya rasakan pada saat jauh dari Android adalah waktu yang berlalu itu lebih produktif dari biasanya (ketika pegang Android), kenapa demikian?

Tentunya pandangan kita lebih fokus kepada kerjaan atau hal yang bermanfaat lainnya, dan juga tidak tengganggu dengan notifikasi yang sering membuat kita penasaran, ya kan? 😉

Ini tentunya tidak bisa disamaratakan ya!, setiap orang pasti berbeda-beda. bisa saja Anda lebih produktif lagi dari pada saya jika Android nya tidak dekat dengan Anda. Atau juga sebaliknya?

Android itu memang membuat kita candu, dan menjadi pisau bermata dua, jika bisa dimanfaatkan dengan baik, begitu juga sebaliknya.

Biasanya yang terjadi di tengah-tengah keluarga adalah komunikasinya sudah jarang jika salah satu dari kedua pasangan lebih dekat dengan Androidnya.

Yang lebih kasihan lagi adalah anaknya, tidak dekat lagi dengan orang tua, waktu nya lebih banyak didepan layar, dan nantinya akan berpengaruh pada perilaku dan pergaulannya.

Mungkin bagi Anda yang sudah membaca tulisan ini sampai akhir, semoga lebih sadar akan bahanya kecanduan Android, ini juga menjadi nasehat berharga bagi saya pribadi. Semoga anak saya nanti membaca tulisan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *